Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Juli 2016

ERDOGAN; From Aceh We Support You with Do'a, May Allah Bless You.


Belakangan dunia islam digemparkan dengan percobaan kudeta oleh militer Turki terhadap pemerintahan Erdogan dan alhamdulillah politisi dan pemimpin paling dipuja oleh umat islam didunia ini berhasil meredam dan menggagalkan kudeta tersebut dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam. 

Presiden Turki Racep Tayyib Erdogan yang sedang berlibur, menggunakan kecerdikan dan kasih sayang rakyatnya meredam keganasan militer. Melalui aplikasi FaceTime dan disiarkan oleh CNN Turk, Erdogan menyeru rakyat turki untuk turun ke jalan-jalan melawan pengkhianatan tersebut.

Erdogan meminta penyiar berita CNN Turk untuk menayangkan pesan FaceTime nya di televisi secara langsung agar semua rakyat turki dapat melihatnya. Erdogan berseru "mari kita berkumpul sebagai bangsa di Square, Saya percaya kami akan melenyapkan pendudukan ini dalam waktu singkat" seperti dikutip Daily Mail.

Turki merupakan sekutu Aceh termasyhur dimasa lalu, dimana saat Dinasti Turki Usmani menguasai dunia dan Aceh Darussalam adalah perwakilan Negara Islam terbesar yang menguasai wilayah Asia Tenggara, berdasarkan fakta inilah hubungan emosional antara Turki dan Aceh cukup erat, bahkan konon bendera Aceh merupakan hadiah dari sultan Turki. 

Sudah lama saya membaca buku dan berita akan tindak tanduk Erdogan dari media lokal, nasional dan internasional. salah satu yang paling populer dan mengguncang dunia adalah saat pertemuan ekonomi G20 dimana Erdogan berhasil mempermalukan perdana menteri Israel Simon Perez di depan forum dunia dengan mengatakan "BABY KILLER" sontak para penonton bersorakan memberi Applaus pada Erdogan. Kemudian tanpa ragu Erdogan meninggalkan diskusi ekonomi tingkat dunia tersebut sebagai protes atas agresi militer Israel ke Gaza, Palestina.

Pada saat pemilu parlemen Turki 1 November 2015, dayah di Aceh menggelar do'a bersama untuk kemenangan Partai AKP yang dipimpin Erdogan. Ini membuktikan bahwa harapan besar akan kebangkitan Islam ada pada pemimpin negeri seribu menara tersebut.

Pada 15 Juli 2016 pembicaraan di warungkopi Banda Aceh tempat saya menetap sekarang ini umumnya topik yang dibahas adalah Masalah Kudeta Militer Turki terhadap Pemerintahan, mayoritas tanggapan mendukung Erdogan dan mendoakan Erdogan terus Memimpin Turki.

"Wahai Erdogan, kami menyayangi anda, kami mencintai anda, kami suka kepemimpinan anda, dan kami berharap pemimpin kami seperti anda. hanya Do'a yang mampu kami kirimkan pada anda semoga Allah selalu melindungi anda dan kelurga anda serta seluruh rakyat negeri anda yang beriman. semoga rahmat dan karunia Allah selalu tercurah pada anda dan niat baik anda segera tercapai serta kejayaan Islam abad 21 bisa segera bangkit melalui anda dan negeri Turki" 

Saya yakin 2 Milyar umat Islam di dunia ini menunggu kebangkitan Khilafah dan harapan terbesar ada pada anda. Dari Aceh kami mengirimkan do'a semoga perjuangan ini berkah dan mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT. Amin... Amin... Amin ya Rabbal A'lamin.
#SafeErdogan
Baca selengkapnya » 1 komentar

Minggu, 07 Juni 2015

Mayoritas Yang Harus Tunduk Pada Minoritas

Belakangan ini jagat maya dihebohkan dengan pernyataan Wakil Presiden Indonesia Yusuf Kalla yang menyatakan suara kaset ngaji di mesjid merupakan "Polusi Udara" yang lebih mengejutkan adalah pernyataan Mentri Agama untuk menghormati orang yang "Tidak Berpuasa".

Pernyataan kedua pejabat tersebut sungguh mengejutkan dan memiriskan, semua kita tau bahwa Indonesia adalah Negara dengan populasi muslim terbesar didunia sehingga pernyataan tersebut membuat rakyat negeri ini meradang, sejumlah kecaman dan cemoohan bertebaran di media sosial sehingga kedua pernyataan tersebut menjadi Top Topic sepekan terakhir. kecaman paling keras datang dari Provinsi paling barat Indonesia.

Ya, Aceh. Provinsi ini adalah daerah yang memiliki Lex Spesialist untuk mengatur dirinya sendiri terlebih daerah ini memiliki aturan khusus untuk menjalankan syari'at islam. Jum'at 12 Juni 2015 menjadi bukti betapa kerasnya protes yang dilancarkan masyarakat di ujung Pulau Sumatera ini, Semua Khatib Shalat Jum'at di hampir semua mesjid di Aceh membahas topik ini yang sebagian besar mengecam pernyataan petinggi negara tersebut, bahkan sebagian menyatakan itulah salah satu faktor yang membuat Hasan Tiro ingin memisahkan Aceh dari Indonesia. Aceh memang sama sekali tidak cocok dengan hukum, norma bahkan agama yang diterapkan di Indonesia.

Di Mesjid tempat saya melaksanakan Ibadah Shalat Jum'at, khatib menyentil pernyataan pejabat tersebut dengan sebuah contoh pada masa rasulullah SAW dimana Rasul bersabda bahwa seorang yahudi masuk syurga karena memperingatkan anaknya untuk menghormati orang muslim yang berpuasa. namun di negeri yang mayoritas islam ini malah sebaliknya, orang yang berpuasa diharuskan untuk menghormati orang-orang yang tidak berpuasa dengan membiarkan mereka makan di tempat-tempat umum, warung harus dibolehkan buka pada siang hari, lantunan suara alqur'an dianggap polusi, aturan apa ini....???

Lain Wakil Presiden dan Mentri Agama, lain lagi dengan Gubernur DKI Jakarta AHOK, menanggapi pernyataan Jusuf Kalla ahok mengatakan bahwa dia malah menikmati suara kaset mengaji di mesjid, namun disisi lain dia malah ingin melegalkan prostitusi di DKI, Bagaimana ini....???

Haruskah begini para pemimpin negeri ini...???
Haruskah moritas harus tunduk dan patuh pada kaum minoritas...???
Baca selengkapnya » 0 komentar

Selasa, 24 Maret 2015

Inilah Akhir dari Semua Cerita

Semua cerita pasti akan berakhir, baik, buruk, sedih, bahagia dan apapun endingnya mau tidak mau, suka tidak suka, senang tidak senang, atau apapun yang anda rasakan, maka itulah hasil akhirnya. ketika peluit panjang berbunyi sekuat apapun tim anda, sekaya apapun Owner your team, setenar apapun nama anda, layak atau tidaknya anda menderita kekalahan, anda tidak akan dapat berbuat apa-apa. kecuali menerimanya meskipun pahit.

akhir-dari-cerita
Layaknya permainan begitulah kehidupan, suatu saat pasti akan berakhir. pada awal tahun 2000-an pernah hadir sebuah lagu yang berjudul "Panggung Sandiwara" lagu ini bercerita tentang realita kehidupan, lika liku hidup ini bagaikan sebuah sandiwara dimana peran yang dimainkan oleh sang bintang ada yang sungguh-sungguh dan ada yang berpura-pura. dalam sandiwara sesuatu yang dijalani dengan kepura-puraan pasti akan berakhir dengan fatamorgana belaka. 

Ketika berbicara kehidupan maka tidak lengkap rasanya jika kita meninggalkan kematian, ibarat pepatah jika ada awal pasti ada akhir, ada hitam ada putih, dan adanya kehidupan maka dapat dipastikan kematian itu pasti datang. sebuah kepastian tidak akan dapat ditawar apalagi direkayasa.

Mati bukan berarti selesai, walaupun secara kasat mata jika dipandang dari jendela kacamata mereka yang masih hidup inilah akhir dari semua cerita, inilah akhir dari semua sandiwara kehidupan, atau bahkan kadangkala ada yang rela bunuh diri demi mengakhiri cerita ini. tapi sayang ini bukan akhir dari segalanya, karena hanya orang yang tahu persis bagaimana cara mati kelak saja yang mengerti bagaimana seharusnya hidup.

Iya, agama adalah segalanya apalagi berbicara masalah akhir dari kehidupan agamalah penentu segalanya. jangan pernah tinggalkan agama karena agama itu adalah garis atau jalur bahkan kadang berarti agama itu ibarat pagar. walaupun anda pernah melompat pagar tapi jangan pernah anda merusak pagar. jangan pernah anda menghapus garis tersebut atau keluar dari jalur yang dibawa oleh Rasulullah, SAW.

Dan Beginilah Akhir dari Semua Cerita.
Ini adalah salah satu dari sekian banyak tulisan saya yang mungkin tidak bermanfaat, ini semata-mata saya tulis sebagai sarana untuk berbagi, karena tiada tempat yang cocok untuk mencurahkan rasa emosional dari harapan besar yang tersimpan dalam hati dan tak mungkin diungkapkan pada siapapun saat ini.

Banda Aceh, 25 Maret 2015
Baca selengkapnya » 0 komentar

Jumat, 20 Juni 2014

Pilpres dalam Dilema Aceh

Oleh Ahmad Fauzi


Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 meski hanya ada dua pasangan, tapi memberikan dilema tersendiri bagi masyarakat Aceh. Plus minus keduanya tak jauh beda. Sama-sama pernah bersentuhan dengan konflik Aceh.

.
Sulit menakar kelebihan para calon presiden itu untuk Aceh. Kedua pasangan kandidat memiliki sejarah masa lalu yang kelam bagi Aceh. Tulisan ini bukan untuk menghakimi para Capres dalam kasus, tapi lebih kepada upaya menakar kembali akar sejarah sebagai spion untuk kita berkaca, mana yang terbaik  diantara keduanya.
Pasangan nomor urut pertama Prabowo Subianto dan Hatta Radjasa. Pasangan ini di usung oleh gabungan Partai Politik (Koalisi Partai Politik) Gerindra, Golkar, PAN, PKS dan PBB. Prabowo Subianto purnawirawan TNI dan mantan Danjen Kopasus pada akhir-akhir masa Presiden Suharto berkuasa antara tahun 1966 sampai tahun 1998.
Pada masa kejayaan Cendana tersebutlah Aceh diterapkan sebagai Daerah Operasi Militer (DOM) untuk memusnahkan gerakan separatis yang dinamakan pemerintah RI sebagai Gerakan Pengacau Keamanan (GPK) yang oleh pendiri dan pemimpin gerakan yang bertujuan memisahkan diri dari NKRI tersebut diberi nama sebagai Aceh Merdeka (AM). Namun gerakan ini kemudian mengubah nama menjadi Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Pada masa inilah yaitu rentang waktu antara tahun 1989 sampai 1998 saat penerapan Daerah Operasi Militer (DOM) ribuan nyawa masyarakat sipil Aceh melayang dan dihilangkan secara paksa tanpa jejak sampai sekarang serta tiada satupun pihak yang bertanggung jawab.
Akibat operasi baret merah ini juga ribuan wanita menjadi janda dan ribuan anak-anak menjadi yatim serta ribuan pelanggaran HAM berat lainnya seperti perkosaan, perampasan harta benda dan penganiayaan yang mengakibatkan cacat fisik dan mental.
Pada sebagian masa itulah Prabowo Subianto menjabat sebagai Danjen Kopassus akibat jabatannya tersebut banyak orang berpendapat sang jendral tidak bisa lepas dari tanggung jawab komando dan menjadikannya salah satu orang yang paling bertanggung jawab dalam sejumlah pelanggaran HAM yang terjadi di Tanah Rencong.
Mencermati lebih jauh, pada tingkatan pertangungjawaban, saya rasa Prabowo hanya pelaku sebuah kebijakan. Ia hanya menjalankan perintah dari atasan. Artinya Prabowo memang salah satu aktor dalam masa DOM di Aceh, tapi ia bukan sutradara. Di atas Prabowo masih ada Panglima TNI yang lebih bertangung jawab, dan di atasnya lagi ada presiden selaku panglima tinggi.
Meski demikian, sejarah kelam ini membuat masyarakat Aceh galau untuk memilih Prabowo Subianto sebagai pemimpin negri ini untuk lima tahun yang akan datang. Namun di sisi lain Partai lokal yang menguasai parlemen dan Pemerintah Aceh yang notabennya para mantan kombatan jauh-jauh hari telah berkomitmen untuk memenangkan Partai Gerindra di tingkat pusat atau DPR RI serta Prabowo Subianto sebagai Presiden.
Bahkan, Partai Aceh menempatkan ketuanya Tgk Muzakir Manaf yang menjabat Wakil Gubernur Aceh sebagai ketua dewan pembina Partai Gerindra Aceh serta ketua pemenangan Prabowo-Hatta Provinsi Aceh. Memang dalam politik tidak ada kawan dan lawan yang abadi, yang ada hanya kepentingan. Partai Aceh memiliki deal-dealatau konsekuensi tertentu dari dukungan yang diberikan terhadap pasangan itu.
Kemudian pasangan nomor urut dua Joko Widodo dan Jusuf Kala. Pasangan ini diusung oleh gabungan (koalisi) Partai Politik yang di ketuai oleh PDI Perjuangan, koalisi ini terdiri dari PDIP, Nasdem, PKB, Hanura dan PKPI.
Jika Prabowo bertanggung jawab antara rentang tahun 1989 sampai 1998, maka Partai pengusung Joko Widodo dan Jusuf Kalla yang sempat berkuasa pasca lengsernya Presiden Abdurrahman Wahid yang kemudian di gantikan oleh sang wakil Megawati Soekarno Putri bertanggung jawab semasa penerapan Darurat Militer di Aceh antara tahun 2002 sampai 2004. Lagi-lagi pada masa ini ribuan nyawa rakyat sipil Aceh melayang, ribuan wanita menjadi janda dan ribuan anak-anak menjadi yatim.
Megawati selaku presiden yang penah berjanji di hadapan ribuan masyarakat Aceh di halaman Mesjid Raya Baiturrahman, kemudian mengingkari janjinya. Megawati berjanji “Jika Cut Nyak jadi Presiden tak akan ada lagi darah yang mengalir di Aceh.”
Ia menyebutkan diri sebagai Cut Nyak, sebutan terhormat masyarakat Aceh. Dengan itu Megawati seolah ingin merebut simpati rakyat Aceh. Tapi apa lacur, kertika Megawati jadi Presiden semua itu ia abaikan. Ia bukan hanya ingkar janji terhadap rakyat Aceh, tapi menambah luka Aceh dengan menerapkan Darurat Militer (DM) di Aceh. Di sinilah tangan Megawati kembali berlumur darah orang Aceh.
Dengan sejumlah fakta tersebut maka sangat wajar jika masyarakat Aceh berada dalam dilema yang besar untuk memilih sosok yang paling tepat pada tanggal  9 Juni mendatang.
Jika kita melihat masa lalu maka tidak ada satupun calon yang layak dipilih oleh masyarakat Aceh. Kedua kubu sama-sama dihuni oleh politisi berlumuran darah masyarakat Aceh. Namun tidak memilih kedua-duanya alias golput juga bukan solusi. Mari kita menimbang-nimbang keduanya, karena kita hanya boleh memilih satu.
Bukan kali ini saja masyarakat Aceh berada dalam posisi dilema ketika ingin memilih Presiden, mari kita lihat saat Pilpres tahun 2004 saat putaran kedua tinggal dua pasangan kandidat yaitu Megawati dan SBY. Pada Pilpres putaran kedua inilah dilema hebat melanda para pemilih di Aceh.
Di satu sisi jika memilih Megawati yang merupakan orang paling bertanggung jawab dalam penerapan Darurat Militer di Aceh, di sisi lain Susilo Bambang Yudhoyono adalah purnawirawan TNI membuat kekhawatiran dan ketakutan masyarakat Aceh jika negri ini di pimpin oleh pensiunan jendral yang umumnya tegas. Dan pada akhirnya pilihan rakyat Aceh jatuh pada sosok SBY yang berhasil memenangkan RI 1 tersebut baik di Aceh maupun secara nasional.
Semua ketakutan dan kekhawatiran masyarakat Aceh terkubur ketika RI dan GAM menandatangani Nota Kesepahaman yang berisikan penyelesaian masalah Aceh dengan cara damai dan bermartabat pada tanggal 15 agustus 2005 di Helsinki Finlandia. Sejak saat itu SBY menjadi sosok yang dihormati di Aceh, dimana setelah lebih dari tiga puluh tahun Aceh dilanda konflik berdarah yang berkepanjangan SBY berhasil membawa angin segar perdamaian di bumi Iskandar Muda.
Kembali ke Pilpres 2014, jika memang tidak ada satupun Capres yang cocok berdasarkan cerminan  masa lalu, maka mari kita pindah ke jendela yang lain, yaitu jendela masa depan. Di antara dua capres ini mana yang lebih memberi pengaruh dan komitmen bagi kemajuan masa depan Aceh.
Wakil Gubernur Aceh, Muzakir Manaf telah mengatakan bahwa Prabowo akan memberikan perhatian lebih bagi Aceh serta akan menyelesaikan semua turunan UUPA dan Perpres kewenangan Aceh, maka tidak ada salahnya kita mengikuti dan mengiyakan anjuran wagub tersebut. Bahkan Rasulullah juga menyarankan kita untuk patuh pada pemimpin.
Semoga siapapun presiden yang akan terpilih nantinya mengerti tentang keistimewaan Aceh yang telah diakui oleh undang undang dan konstitusi Pemerintah Indonesia, karena dengan begitu damai Aceh akan langeng.[]

Ahmad Fauzi adalah mahasiswa Ilmu Komputer jurusan Sistem Informasi pada Universitas U’budiah Indonesia
Baca selengkapnya » 0 komentar

Pemerintahan ZIKIR dimata Blogger

Dua Tahun Pemerintahan ZIKIR- Tanggal 25 juni 2012 menjadi awal dari keberhasilan dan kesuksesan sebuah Gerakan Kemerdekaan Aceh, dimana sejak saat itu Pemerintahan Aceh di pegang penuh oleh gerakan ini. Semua itu ditandai dengan dilantiknya Mentri Kesehatan dan Panglima perang GAM sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh periode 2012 sampai 2013 oleh Mentri Dalam Negeri Gamawan Fauzi di kantor DPRA Banda Aceh. Jauh sebelumnya Parlemen Aceh juga di kuasai oleh Partai Aceh yang merupakan Partai bentukan mantan Kombatan serta pengusung pasangan ZIKIR ini.

Perjuangan belum berakhir, dengan penguasaan penuh dua lembaga tertinggi di Aceh Legislatif dan Eksekutif, kombinasi keduanya yang dipegang oleh satu Partai seakan tiada halangan lagi bagi kemajuan dan kemakmuran serta semua hak-hak Aceh yang tertuang dalam Naskah perjanjian MOU Helsinki. Ternyata setelah gerakan ini menguasai Pemerintahan Aceh PR yang lebih besar telah menunggu, yaitu kemiskinan, ketertinggalan, dan kualitas pendidikan yang bobrok.


Jika kita melihat dimana posisi Aceh saat ini, dimata Indonesia pun Aceh belum cukup syarat untuk disegani. Badan Pusat Statistik tahun 2012 melansir Aceh adalah Provinsi termiskin keenam dari 33 Provinsi di Indonesia, yang lebih tragis adalah dunia pendidikan Aceh, Provinsi ini menjadi Provinsi dengan jumlah siswa yang tidak lulus merupakan yang tertinggi untuk tingkat SMA di seluruh Indonesia  yang mencapai 785 orang, meskipun secara persentase Aceh menduduki peringkat delapan nasional. (Tempo, 21 mei 2014)

Secara de-jure, Aceh mungkin tidak dijajah, karena tidak ada pengakuan takluk dari penguasanya dan perlawanan konstan dari pejuangnya. Namun system pemerintahan, ekonomi, dan aspek formal lainnya dipengaruhi oleh institusi hukum buatan Belanda. Akibatnya peningkatan kualitas manusia Aceh seakan jalan ditempat karena terus diperangi dan sumber daya alam tak henti dikeruk serta Aceh kembali menjadi korban ditengah anggaran yang melimpah.

Waktu berlalu begitu cepat, tiada terasa pemerintahan Zikir hampir genap berusia dua tahun, banyak kesuksesan dan penghargaan yang diperoleh, namun juga tidak kurang yang menilai pemerintahan ZIKIR telah GAGAL membawa Aceh ke arah yang lebih baik. Sebenarnya semuanya benar dan semuanya salah, tergantung dari sudut mana anda memandang. Jika seseorang menilai sesuatu dari sudut pandang yang positif, maka yakinlah nilainya akan positif jua, dan sebaliknya jika seseorang menilai sesuatu yang negatif, pasti nilainya juga akan negatif.

Sebenarnya jika kita melihat pemerintahan ZIKIR selama dua tahun ini secara bijak dua sosok pemimpin Aceh ini merupakan sosok yang sangat tepat, walaupun sebagian dari janji-janjinya semasa kampanye belum sepenuhnya dipenuhi, Setidaknya sebagian kewenangan Aceh telah berhasil mereka rebut dari pemerintah pusat.  Membangun bangsa yang porak-poranda setelah puluhan tahun dilanda konflik bersenjata bukan semudah membalikkan telapak tangan, butuh perjuangan dan kemauan serta kontribusi semua pihak untuk membangun Aceh kearah yang lebih baik sehingga dapat disejajarkan dengan bangsa maju seperti Malaysia, Singapura bahkan Brunei Darussalam pasti akan terwujud jika dilakukan dengan sepenuh hati dan sungguh-sungguh.

Maka dari itu sebagai bangsa yang beradab mari kita apresiasi kinerja pemerintah ZIKIR dan semua kesalahan dan kekurangan dalam Dua Tahun Pemerintahanan ZIKIR jangan kita nilai sebagai kegagalan sistem pemerintahan yang dipimpin Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf.

Penulis yakin apabila dikerjakan dengan niat yang ikhlas dan sepenuh hati serta dukungan penuh dari seluruh masyarakat Aceh Pemerintah ZIKIR akan mencapai keberhasilan dan mampu menjadikan Aceh yang bermartabat di mata dunia seperti buku yang pernah ditulis oleh sang Ayah Ideologis Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf  sekaligus Deklarator Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Dr Muhammad Hasan Tiro yang berjudul “Atjeh bak Mata Donya”.

Kepada pasangan ZIKIR dalam peringatan Dua Tahun Pemerintahan ZIKIR saya ucapkan terima kasih dan selamat mengemban tugas sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh, semoga Allah SWT memberikan bimbingan dan petunjuk serta melimpahkan rahmatnya dan karunianya bagi Pemimpin Aceh ini dalam memakmurkan bumi Iskandar Muda dan menjadikan Aceh sebagai Nanggroe yang Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur.

“Setiap kita adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban atas apa yang iya pimpin”


Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Komputer jurusan Sistem Informasi pada Universitas U’Budiyah Indonesia
Baca selengkapnya » 1 komentar

Copyright © Fauzi Journey 2010

Template By Nano Yulianto